Perjalanan menuju Lampung dimulai sejak pagi buta, bahkan sebelum matahari terbit. Suasana sekolah sudah dipenuhi siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA yang bersiap mengikuti perjalanan. Raut wajah penuh semangat terlihat di mana-mana. Ada yang sudah tidak sabar bertemu kembali dengan teman-teman di Lampung, sementara ada juga yang baru pertama kali mengikuti perjalanan ini. Meskipun perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh, semangat seluruh peserta tetap tinggi.
Tidak lama kemudian, bus mulai meninggalkan sekolah. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam bus dipenuhi canda tawa. Obrolan, nyanyian, dan berbagai cerita membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal. Hamparan laut yang luas dan angin sepoi-sepoi membuat rasa lelah seakan hilang. Sebagian peserta memilih menikmati pemandangan dari dek kapal, sedangkan yang lain mengobrol atau berfoto bersama.
Beberapa jam kemudian, rombongan akhirnya tiba di Sekolah Yos Sudarso Metro, Lampung. Kedatangan disambut dengan sangat meriah melalui penampilan drumband, nyanyian, dan tepuk tangan. Suasana hangat langsung terasa ketika para peserta bertemu kembali dengan teman-teman dari Lampung. Banyak yang saling menyapa, berjabat tangan, bahkan berpelukan setelah sekian lama tidak bertemu.
Setelah acara penyambutan selesai, seluruh peserta diarahkan menuju tempat menginap masing-masing untuk meletakkan barang dan beristirahat sejenak. Walaupun perjalanan cukup melelahkan, rasa senang karena telah sampai di tujuan membuat semangat tetap terjaga untuk mengikuti kegiatan selanjutnya.
Menjelang sore, seluruh siswa, guru, Romo, dan Bruder dari lima Sekolah Dehonian mengikuti misa bersama. Misa berlangsung dengan khidmat dan penuh rasa syukur atas perjalanan yang berjalan lancar. Melalui perayaan Ekaristi tersebut, seluruh peserta juga memohon agar rangkaian Pentas Seni dapat berlangsung dengan baik dan membawa sukacita bagi semua.
Pada malam hari diadakan acara kebersamaan yang berlangsung dengan suasana santai dan penuh keceriaan. Berbagai permainan, nyanyian, serta cerita membuat hubungan antarpeserta menjadi semakin akrab meskipun berasal dari sekolah yang berbeda. Hari pertama pun ditutup dengan penuh kebahagiaan sebagai persiapan untuk kegiatan pada hari berikutnya.





Keesokan paginya, seluruh peserta mengikuti gladi bersih sebagai persiapan terakhir sebelum pementasan. Setiap penampilan kembali dilatih, mulai dari gerakan, lagu, dialog, hingga perpindahan panggung. Walaupun latihan berlangsung cukup melelahkan, semua tetap berusaha memberikan penampilan terbaik Menjelang sore, suasana di belakang panggung mulai sibuk. Para penampil mengenakan kostum, merapikan riasan, dan menyiapkan perlengkapan masing-masing. Rasa gugup mulai muncul, tetapi semangat untuk memberikan penampilan terbaik tetap terlihat dari setiap peserta. Tidak lama kemudian, acara resmi dimulai. Aula dipenuhi tamu undangan, Romo, Bruder, Suster, guru, orang tua, dan para siswa. Acara dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars YPKLD, dan doa bersama agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Yayasan, Bruder Petrus Triantara, SCJ. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh keluarga besar Dehonian untuk terus hidup dalam semangat kasih dan kepedulian terhadap sesama. Setelah itu ditayangkan video sinematik dari Yos Sudarso Metro yang mengangkat tema Compassion, sesuai dengan tema besar Pentas Seni tahun ini.
Berbagai penampilan kemudian dipersembahkan secara bergantian. Mulai dari ansambel musik, paduan suara, seni pencak silat, angklung, tari tradisional, parade ekstrakurikuler, hingga penampilan spesial dari bintang tamu, Mattew. Setiap penampilan mendapat sambutan meriah dan tepuk tangan dari para penonton karena berhasil menghibur sekaligus menunjukkan kreativitas para peserta.
Puncak acara malam itu adalah drama musikal berjudul Putri Nuban. Drama diawali dengan suasana kerajaan yang damai dan indah. Putri Nuban hadir diiringi musik tradisional Talo Balak dan tarian yang menggambarkan keindahan alam Lampung. Bersama sang Raja, Putri Nuban menyampaikan pesan bahwa alam merupakan anugerah yang harus dijaga oleh semua orang.
Cerita kemudian beralih ke suasana pasar yang ramai. Masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari, sementara kedatangan siswa SD Antonius Jakarta untuk studi banding menambah semarak suasana. Dalam keramaian tersebut, Putri Nuban mengajak semua orang untuk saling membantu dan peduli kepada sesama tanpa membedakan siapa pun. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kekeringan mulai melanda, sungai mengering, dan masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air. Di tengah situasi tersebut muncul orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri sehingga keadaan menjadi semakin sulit. Meski demikian, Putri Nuban tetap berusaha menenangkan rakyat dan memohon kepada Tuhan agar alam kembali memberikan kehidupan.
Saat harapan mulai memudar, Putri Nuban menunjukkan ketulusan hati dengan membagikan persediaan makanan dan air terakhir yang dimiliki istana kepada rakyat yang membutuhkan. Walaupun tindakannya sempat diragukan oleh sebagian orang, Putri Nuban tetap memilih mengutamakan kepentingan rakyat daripada dirinya sendiri. Pengorbanan Putri Nuban mencapai puncaknya ketika ia rela menyerahkan dirinya demi menyelamatkan rakyat dan mengembalikan sumber air bagi seluruh kerajaan. Keputusan yang berat itu diambil karena keyakinannya bahwa pengorbanan akan membawa harapan baru bagi banyak orang.
Pada akhirnya, pengorbanan Putri Nuban tidak sia-sia. Air kembali mengalir, alam menjadi subur, dan kehidupan masyarakat kembali damai. Raja bersama seluruh rakyat berjanji untuk menjaga alam dan terus hidup dalam semangat kasih serta kepedulian. Drama ditutup dengan tarian kolosal yang melibatkan siswa dari lima Sekolah Dehonian sebagai lambang persatuan dan kebersamaan.Pentas Seni tahun ini tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan bakat dan kreativitas, tetapi juga menjadi pengalaman yang memberikan banyak pelajaran tentang persahabatan, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama. Perjalanan yang panjang, latihan yang melelahkan, hingga penampilan di atas panggung menjadi rangkaian pengalaman yang berharga dan akan selalu dikenang menumbuhkan semangat untuk terus menerapkan nilai-nilai compassion dalam kehidupan sehari-hari.






































